Eli Latipah

Lulus diploma dua dari PGSD IKIP Bandung (UPI) dan S1 dari Pendidikan Matematika STKIP Garut. Mengajar di SDN 2 Cintanagara Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut, J...

Selengkapnya
Tak Ingin Kembali Lagi ke Belitung

Tak Ingin Kembali Lagi ke Belitung

Mendapat undangan ke Kepulauan Bangka Belitung untuk mengikuti Bimbingan Teknis Pengembangan Kompetensi Bagi Guru Daerah Khusus membuatku senang, karena ini pertama kali aku akan terbang ke luar Pulau Jawa yang sebelumnya belum pernah kulakukan. Perjalananku dari rumah menuju Bandung dan kemudian dilanjutkan ke Bandara Sukarno Hatta Jakarta. Di bandara aku berencana untuk bertemu sahabatku Bu Undra dari Banten agar ada teman ketika di pesawat dan sampai di Belitung. Jam 03.00 dini hari aku sampai di bandara, dan ternyata Bu Undra telah sampai lebih dahulu. Setelah mendapatkan boarding pass dan melewati pemeriksaan kami menunggu untuk take off ke Bandara H.A.S. Hanandjoeddin Tanjung Pandan Pulau Belitung. Dan Alhamdulillaah sesuai jadwal pukul 06.30 kami terbang dengan Garuda ke Bandara H.A.S. Hanandjoeddin Belitung.

Sampai di Belitung kenyamanan pulau kecil ini mulai kurasakan, bersih dan tak ada macet. Tak ada kendaraan umum yang biasanya membuat semerawut juga satu hal yang penting “tak ada sampah”. Dari bandara menuju hotel mataku dimanjakan hijaunya pepohonan di sepanjang jalan. Saat itu kami mengobrol dengan supir tentang daerah yang kami lewati, dan temanku Bu Undra meminta untuk berhenti sebentar di toko tas. Dan akhirnya tas itu dapat juga meski harganya jauh lebih mahal dibanding di daerah kami. Tapi tak apalah kata temanku yang penting sudah mendapatkan tas itu.

Di hotel kami diterima dengan ramah, dan aku pikir itu sudah biasa karena memang kami tamu hotel, tetapi ternyata keramahan dan kebaikannya kami rasakan sampai rela mengantar teman yang sakit ke klinik kesehatan hingga kembali ke hotel. Peserta lain pun berdatangan kami saling sapa dan mengobrol. Ada Pak Musa dan temannya dari Papua, Bu Risna dari Bogor juga panitia dari Kemdikbud Jakarta. Karena saat itu belum saatnya chek in akhirnya kami memutuskan untuk mencari sekedar pengganjal perut karena sudah terasa lapar. Kebetulan Hotel Grand Hatika letaknya sangat dekat dengan Pantai Tanjung Pendam yang di dalamnya terdapat beberapa kuliner dan kami pun masuk ke area pantai dengan harga karcis yang sangat terjangkau. Kami hanya mengobrol sebentar sembari menikmati nasi goreng dan empek-empek yang lumayan lezat sambil sesekali mengintip keindahan pantai dari kejauhan.

Akhirnya aku mendapatkan kunci kamar hotel dan Alhamdulillah sekamar dengan Bu Ihat dari Kabupaten Sukabumi teman satu provinsi juga. Satu minggu di Belitung tak terasa berlalu, materi pelatihan sangat menarik apalagi ditambah para nara sumber yang hebat-hebat hingga dapat mengusir kebosanan. Sesekali aku mencuri waktu untuk membeli oleh-oleh khas Belitung. Ternyata harga-harga barang suvenirnya lumayan mahal dibanding harga di daerahku. Menurut informasi mahalnya harga tersebut karena barang yang dijual didapat dari Jakarta.

Hari terakhirku aku bersama peserta lain berkesempatan untuk mengunjungi Pantai Tanjung Tinggi tempat yang pernah dipakai sebagai lokasi syuting film Laskar Pelangi. Masya Alloh pantai Tanjung Tinggi yang bersih dengan airnya yang jernih, pasir putih, ditambah hiasan batu-batu besar yang elok menambah keindahan pantai ini. Rasanya tak puas hanya menikmati sebentar keindahan panti ini, tapi sayang waktu kami terbatas. Kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Kelayar pantai lain yang tak kalah indahnya dengan pantai-pantai yang ada di Belitung. Di sini pun kami tak bias berlama-lama karena hari sudah terlalu sore dan akhirnya kami pulang menuju hotel dengan mampir sebentar ke Galeri untuk sekedar membeli oleh-oleh.

Kepulanganku tiba akhirnya aku, Bu Undra dan Bu Risna berkemas pagi sekali karena pesawatku terbang jam setengah delapan. Ada rasa enggan menyelinap di hati ketika aku harus pulang. Semua yang kudapat dan kualami di Belitung benar-benar memberikan kesan yang mendalam bagiku. Satu hal yang tak ingin kulupakan di Belitung, bahwa ketika kita kehilangan barang jangan takut karena barang itu tidak akan hilang. Dan itu terjadi ketika Bu Undra ketinggalan barang di mobil, supirnya mengembalikan barang tersebut ke hotel. Benar-benar daerah yang aman. Andai aku diberi kesempatan untuk kembali ke Belitung, aku tak ingin kembali lagi ke Belitung dengan hanya menikmati alamnya sekejap saja. Tetapi aku ingin kembali ke Belitung sampai puas menikmati alamnya, berkeliling menjelajahi tempat-tempat bersejarah dan pantai indah lainnya beserta keluarga dan sanak saudara. Semoga Allah mengabulkan keinginanku. Aamiin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Amiin... Jauh perjalann smakin bnyak pengalaman y didptkn,,,

04 Oct
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali